“Yuk, Kita Jaga Jarak Fisik (Physical Distancing) untuk cegah Penyebaran Covid-19”

Pandemi virus corona (Covid-19) ini pertama kali ditemukan di Kota Wuhan, Cina pada akhir bulan Desember 2019. Penyebaran Pandemi Covid-19 (Virus Corona) telah menghantui semua Negara di belahan dunia tak terkecuali di Indonesia. Hal ini membuat beberapa Negara di dunia menerapkan aturan Lockdown guna mencegah penyebaran Covid-19. Hingga Senin (13/04/2020), dilansir dari situs ncov2019.live, jumlah kasus yang terkonfirmasi di seluruh dunia sebanyak 1,864,094 kasus, atau 1,8 juta orang terinfeksi virus corona. Dari jumlah tersebut sebanyak 115,158 pasien yang dikonfirmasi meninggal dunia, dan jumlah pasien yang dinyatakan sembuh 428,763 orang. Di Indonesia Berdasarkan data dari laman resmi Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 www.covid19.go.id, 13 April 2020, 16:10 WIB terkait virus corona yang dikonfirmasi positif sebanyak 4.557 kasus. Sementara itu, 380 pasien dinyatakan sembuh dan dari keseluruhan kasus yang dikonfirmasi 399 orang dinyatakan meninggal dunia. “Kita patut bersyukur sudah ada 380 orang dinyatakan sembuh, kita berharap bahwa ini menjadi sebuah optimisme kita semua bahwa COVID-19 bisa sembuh,” kata Yuri dalam jumpa pers Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 di Graha BNPB di Jakarta, Senin (13/4). “Karena itu Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB adalah kebijakan pemerintah yang harus dipatuhi, bukan hanya diketahui tapi dijalankan,” tegasnya. Di Provinsi Maluku Sementara itu, Provinsi Maluku berdasarkan data dari Gugus Tugas Covid-19 (Kluster Kesehatan) Provinsi Maluku diupdate Senin 13 April 2020, merinci jumlah terkonfirmasi positif 14 kasus Virus Corona di Kota Ambon dan ada sembilan orang, Kabupaten Maluku Tengah tiga orang, Kabupaten Seram Bagian Barat satu orang, dan satu pasien dinyatakan sembuh. Apa itu Physical Distancing ? Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi mengganti penggunaan frasa social distancing “Jarak Sosial”menjadi physical distancing atau “Jarak Fisik” sejak 20 Maret 2020....

GEMPA BUMI MENGHANCURKAN FASILITAS PENDIDIKAN DI MALUKU

Gempa Bumi Menghancurkan Fasilitas Pendidikan Di Maluku Gempa bumi menghancurkan sejumlah fasilitas pendidikan akibat gempa magnitudo berkuatan 6,8 Skala Ritcher yang mengguncang Pulau Ambon dan sekitarnya, terus bertambah. Dalam catatan Posko Satuan Tugas Penanggulangan Darurat Bencana Maluku hingga Selasa (8/10/2019). Ada sebanyak 172 gedung sekolah dan bangunan kampus yang mengalami kerusakan. “Total sekolah dan kampus yang rusak akibat gempa berjumlah 172 bangunan.” kata Humas Satgas Penanggulangan Darurat Bencana Gempa Maluku Frona Koedoeboen. Banyak Sekolah dan Kampus yang rusak Frona merinci, sekolah dan kampus yang rusak itu tersebar di Kota Ambon. Dengan rincian 9 gedung sekolah rusak ringan, 28 rusak sedang dan 8 rusak parah. Selain itu, sebanyak 19 gedung di kampus Universitas Pattimura juga rusak. Kemudian, 1 bangunan di Universitas Darusalam dan 5 bangunan di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon, rusak akibat gempa. “Total keruskaan fasilitas pendidikan di Ambon berjumlah 70 bangunan sekolah dan gedung kampus yang rusak,” kata Frona. Sementara itu, di Kabupaten Maluku Tengah, gempa merusak sebanyak 52 bangunan sekolah. Dengan rincian rusak ringan sebanyak 8 sekolah, rusak sedang 39 sekolah dan rusak parah sebanyak 5 sekolah. Sedangkan, untuk Kabupaten Seram Bagian Barat, total sekolah yang rusak sebanyak 47 sekolah. Dengan rincian rusak ringan sebanyak 7 sekolah, rusak sedang 22 sekolah dan rusak parah sebanyak 18 sekolah. Sebelumnya diberitakan, gempa magnitudo 6,8 mengguncang Pulau Ambon dan Kabupaten Seram Bagian Barat pada Kamis (26/9/2019). Akibat gempa tersebut tercatat 38 orang meninggal dunia dan ratusan lainnya mengalami luka-luka. Selain korban jiwa, gempa tersebut juga mengakibatkan kerusakan rumah-rumah warga, sekolah, rumah ibadah, perkantoran dan fasilitas publik...

RIBUAN GEMPA SUSULAN GUNCANG MALUKU DALAM 11 HARI

Ribuan Gempa Susulan Guncang Maluku dalam 11 Hari Ribuan Gempa susulan masih terjadi di Maluku pascagempa magnitudo 6,5 yang terjadi pada 26 September 2019. Berikut Catatan BMKG sampai dengan Senin (7/10) pagi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengidentifikasi 1.149 kali gempa susulan dan 122 di antaranya dirasakan oleh warga. Pada Senin (7/10), pukul 02.15 WIB, gempa M 3,4 dengan kedalaman 10 km masih terjadi dan dirasakan warga. Pusat gempa tersebut berada di laut sekitar 24 km timur laut Ambon. Namun demikian dilihat dari rangkaian gempa susulan, frekuensi cenderung turun. Sementara itu, korban meninggal dunia berjumlah 37 jiwa,” ujar Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Agus Wibowo dalam keterangannya. Sementara itu, jumlah kerusakan rumah mencapai 6.344 unit dengan tingkat kerusakan berbeda. Wilayah Kabupaten Malteng, rumah rusak berat (RB) 724 unit, SBB 298 dan Ambon 251. Sementara itu rumah rusak sedang (RS) di wilayah Kabupaten Malteng mencapai 1.104 unit, SBB 469 dan Ambon 253, sedangkan rusak ringan (RR) di wilayah Malteng 2.238, Ambon 654 dan SBB 353. “Kebutuhan personel kesehatan masih sangat dibutuhkan, seperti dokter umum, bidan dan perawat, apoteker dan tenaga psikososial, Penanganan darurat di sektor kesehatan, kata dia, tidak hanya memberikan pelayanan medis tetapi juga memastikan gizi terpenuhi pada kelompok rentan, kesehatan reproduksi, distribusi obat dan pencegahan serta pengendalian penyakit. “BNPB masih terus memberikan pendampingan kepada pemerintah daerah setempat dan memastikan pelayanan kepada warga terdampak dilakukan dengan baik,” kata Agus menambahkan Sebelumnya, Kepala BPBD Provinsi Maluku, Farida Salampessy menyatakan beredarnya kabar bohong atau hoaks soal akan terjadi gempa susulan lebih besar disertai tsunami membuat jumlah warga yang mengungsi terus bertambah. Dari data pun jumlah pengungsi di terus...

GEMPA BUMI 6,8 SR MENGGUNCANG MALUKU 26 SEPTEMBER 2019

Gempa bumi magnitudo 6,8 mengguncang Kota Ambon, Kairatu dan Pulau Haruku, Provinsi Maluku, Kamis (26/9/2019) pagi sekitar pukul 08.44 WIT. “Gempa tersebut dipicu sesar aktif,” kata Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG ) Daryono melalui rilis yang diterima di Jakarta, Kamis. Berdasarkan hasil analisis BMKG, episenter gempa bumi terletak pada koordinat 3,43 LS dan 128,46 BT atau tepatnya berlokasi di darat pada jarak 15,3 kilometer (km) arah tenggara kota Kairatu atau pada jarak 42 km arah timur laut Kota Ambon, Provinsi Maluku pada kedalaman 10 km. Ia mengatakan dengan memerhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, gempa yang terjadi merupakan jenis gempa dangkal akibat aktivitas sesar aktif lokal. “Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa ini dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan dari struktur sesar mendatar atau strike slip fault,” katanya. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi magnitudo 6,5 tersebut tidak berpotensi tsunami. Berdasarkan informasi dari masyarakat dan shakemap BMKG, dampak gempa bumi juga dirasakan di daerah Tihulae dan Latu dalam skala intensitas V-VI MMI di Banda II MMI. “Wilayah ini berpotensi terjadi kerusakan,” ujar dia. BMKG Maluku melalui unggahannya di akun media sosial Instagram, @infobmkgmaluku pada Selasa (01/10/2019) menginformasikan bahwa, pascagempa utama yang terjadi sebesar M 6.8 yang kemudian diupdate menjadi M 6.5, hingga 01 Oktober 2019 pukul 09.00 WIT di wilayah Ambon telah terjadi 782 gempa susulan. Sedangkan 82 gempa di antaranya bisa dirasakan oleh masyarakat. Dampak yang terjadi karena gempa antara lain sebagai berikut : Korban Gempa Hingga Senin (30/9/2019), total jumlah korban yang meninggal mencapai 34 orang. Berikut identitas para korban meninggal yang diperoleh dari Badan Penanggulangan Bencana...